Mitos Sunscreen Yang Perlu Kamu Ketahui

Mitos-Mitos Tentang Sunscreen: Haruskah Lebih Takut Pada Sunscreen Itu  Sendiri Daripada Sinar Matahari? - Facetofeet.com

Sunscreen adalah persenjataan terpenting dalam peralatan rias kamu, namun masih banyak yang salah paham dalam penggunaan tabir surya. Ada banyak informasi yang beredar di internet dan bisa saja itu salah. Untuk membantu menyaring fakta dari fiksi, simak ulasan berikut ini.

Apakah sunscreen diperlukan?

Sunscreen atau tabir surya adalah bagian yang sangat penting dari perawatan kulit kita. Tabir surya akan mencegah tanning, pigmentasi, dan menunda penuaan. Kita perlu menerapkan board spectrum sunscreen dari sinar UVA dan UVB. Kedua sinar ini berbahaya dan menyebabkan kerusakan akibat sinar matahari, serta juga bisa menyebabkan kanker kulit. 

Mitos 1: Saya memiliki kulit gelap. Jadi, saya tidak membutuhkan sunscreen.

Salah. Mitos ini berasal dari anggapan bahwa orang dengan lebih banyak melanin (pigmen yang memberi warna pada kulit kita) tidak perlu menggunakan tabir surya karena melanin melindungi dari luka bakar akibat sinar matahari. Meskipun orang dengan kulit gelap lebih terlindungi dari matahari dibandingkan dengan orang yang lebih putih, mereka tetap harus menggunakan tabir surya spektrum penuh karena kerusakan UVA tidak diblokir oleh melanin dengan cara yang sama seperti menghalangi sinar UVB. Dan, sinar UVA dapat menyebabkan penuaan dini dan kerutan pada kulit. Warna kulit yang tidak merata, noda, dan lain sebagainya juga disebabkan oleh paparan sinar matahari yang lama tanpa perlindungan matahari.

Mitos 2: Saya tidak membutuhkan sunscreen jika cuaca mendung atau hujan di luar.

Jangan gunakan sunscreen hanya untuk hari yang cerah. Bahkan pada hari yang mendung, hingga 80 persen sinar ultraviolet matahari dapat menembus awan. Banyak yang masih melewatkan tabir surya pada saat keluar rumah atau ruangan tanpa menyadari bahwa mereka benar-benar terkena sinar matahari lebih dari sekali. Sekali dari matahari kemudian sinar matahari pada saat turun hujan, membuat semakin rentan terhadap kerusakan akibat sinar matahari. Pasir memantulkan 25 persen sinar matahari dan air hujan memantulkan 80 persen sinar matahari. Jadi, jika hari mendung, dingin, atau hujan, kamu masih perlu mengoleskan tabir surya dengan cara yang sama seperti saat hari cerah.

Mitos 3: Kanker kulit terjadi pada kulit putih.

Meskipun melanin merupakan pigmen yang terdapat pada kulit lebih gelap daripada jenis kulit putih, dan juga memiliki peran perlindungan terhadap kanker kulit, bukan berarti kulit tidak dapat terjadi pada jenis kulit kita. Yang terbaik adalah mengoleskan sunscreen ke kulit yang terbuka, setidaknya jika kamu sedang berada di bawah sinar matahari selama berjam-jam untuk mencegah kemungkinan terkena kanker kulit.

Mitos 4: Tidak membutuhkan sunscreen di dalam ruangan.

Sinar UVB tidak dapat menembus jendela kaca, namun sinar UVA bisa, dan ini bisa membuat kamu rentan terhadap efek merusak jika tidak terlindungi. Selain itu, cahaya biru yang dipancarkan dari TV, komputer, dan ponsel yang disebut cahaya tampak berenergi tinggi (HEV), sama bahayanya dengan kerusakan akibat sinar matahari. Penelitian mengenai efek spesifik HEV masih terus berkembang, namun para ilmuwan mengatakan cahaya menembus kulit lebih dalam daripada sinar UV matahari. Sinar ini dapat memengaruhi DNA kita dan mempercepat proses penuaan serta memperburuk kondisi kulit yang menyebabkan hiperpigmentasi seperti melasma. Jadi, pastikan untuk mengaplikasikan secara berkala sunscreen bahkan saat kamu berada di rumah untuk mencegah kemungkinan efek samping.

Mitos 5: Sunscreen dapat menyebabkan kanker.

Mitos ini berasal dari penelitian yang dilakukan pada oxybenzone, salah satu bahan aktif di banyak tabir surya. Tikus yang terpapar oxybenzone mengalai efek samping negatif yang serius seperti perubahan mutagenik dalam selnya. Namun, seperti yang terlihat bahwa tingkat paparan yang dicapai penelitian tersebut untuk menghasilkan masalah kesehatan pada tikus sangat tinggi. Perhitungan yang dibuat oleh penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa hasil tersebut tidak dapat dicapai pada manusia, bahkan bagi mereka yang menggunakan sunscreen secara teratur dan bebas. Para peneliti mencatat bahwa setelah 40 tahun oxybenzone menjadi bahan sunscreen, tidak ada penelitian yang dipublikasikan dalam menunjukkan efek toksik pada manusia yang disebabkan oxybenzone yang diserap. [cp]