Apakah Sebenarnya Kamu Pernah Terjangkit COVID-19? Cari tau di Sini!

Inggris Sarankan Penderita Asma Sebaiknya Tak Pakai Masker, Dokter Ungkap  Alasannya - Pikiran-Rakyat.com

Meski kita semua sudah bosan dengan keadaan pandemi yang tak kunjung selesai di Indonesia, COVID-19 masih terus berlangsung. Dan walaupun kita sudah bosan membaca dan mengikuti berita mengenai COVID-19, bukan berarti virus itu tidak ada.

Faktanya, jumlah kasus harian masih bertambah sekitar kurang lebih 5000 kasus per harinya, dengan total kasus positif per 13 April 2021 adalah 1.577.526 kasus dan total korban jiwa sebanyak 42.782—tertinggi di ASEAN.

Untuk mereka yang pernah mengalami COVID-19, mereka paham betul seperti apa gejalanya, apa saja yang mereka rasakan selama sakit, dan berapa lama penyakit tersebut bertahan. Namun bagi yang tidak mengalaminya, kamu mungkin tidak yakin apakah informasi yang ada sudah cukup menjelaskan gejala COVID-19, apalagi virus tersebut terus menerus bermutasi. Bukan tidak mungkin ada beberapa orang yang pernah terkena COVID-19 tanpa mereka sadari, dan kalau kamu bertanya-tanya apakah kamu pernah mengalaminya, berikut adalah hal-hal yang perlu kamu ketahui.

Apakah kamu pernah mengalami COVID-19 tanpa kamu ketahui?

Bukan tidak mungkin seseorang mengalami COVID-19 tanpa gejala. Dr Dominic Pimenta, seorang kardiolog asal London, memberitahu Cosmopolitan UK: "Kita semua paham bahwa gejala paling umum dari COVID-19 adalah demam tinggi serta batuk kering, namun 80% pasien justru memiliki gejala ringan atau tidak memiliki gejala sama sekali. Ketika gejalanya memburuk, demam dan batuk kemudian baru muncul pada sekitar 50% pasien."

Di samping dari gejala-gejala utama yang kita semua telah ketahui, berikut ini beberapa tanda lainnya yang mungkin tidak kamu sadari merupakan indikator dari virus corona. Seperti:

Kamu mengalami sakit kepala yang tak kunjung berhenti

Menurut Dr Pimenta, 70% penderita COVID-19 mengalami sakit kepala—meski ini bukan gejala paling umum dari COVID-19. Kalau kamu memang sering mengalami sakit kepala bahkan sebelum COVID-19 ada, mungkin rasa sakit kepala tersebut tidak ada hubungannya dengan COVID-19—namun tidak menutup kemungkinan bahwa sakit kepala merupakan salah satu gejala awal dari COVID-19. Salah satu cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan tes SWAB-PCR.

Kamu mengalami kelelahan

Kalau kamu merasa kelelahan selama seminggu penuh, ini bisa menjadi salah satu gejala dari COVID-19. Sekitar 63% pasien yang didiagnosa COVID-19 melaporkan kelelahan sebagai salah satu gejala awal mereka.

Kamu mengalami sakit tenggorokan

Sakit tenggorokan bisa menjadi awal gejala dari demam atau bahkan flu—dan bisa menjadi tanda bahwa kamu mengalami COVID-19. Faktanya, 52,9% penderita mengalami sakit tenggorokan, jadi sebaiknya jangan meremehkan gejala tersebut.

Kamu mual dan muntah, atau mengalami diare

Ini merupakan gejala yang paling tidak umum, namun sakit perut, mual dan diare juga merupakan gejala awal dari COVID-19—walaupun memang sangat langka—hanya empat persen penderita COVID-19 yang mengalami gejala ini.

Gejala umum lainnya adalah:

Kehilangan kemampuan penciuman, tidak bisa mengecap rasa, batuk, dan sesak napas.

Apakah mungkin mengalami COVID-19 lebih dari satu kali?

Jawabannya: Ya. Saya bahkan mengenal dua orang yang terkena COVID-19 lebih dari satu kali dalam kurun waktu kurang dari dua bulan.

Jadi kalau kamu pernah mengalami COVID-19, dan kamu bertanya-tanya apakah kamu masih berisiko terkena virus tersebut, jawabannya adalah ya. Studi menemukan bahwa beberapa pasien kembali terkena COVID-19 dalam rentang waktu kurang dari satu tahun, dan penelitian yang dilakukan oleh King's College London menemukan bahwa level antibodi yang bisa membunuh virus corona memudar dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Dr Pimenta menjelaskan,"Problemnya, para ahli masih tidak yakin apakah kamu akan imun dari COVID-19 untuk jangka waktu yang lama setelah kamu terinfeksi. Data yang dikumpulkan masih belum cukup untuk membuat kesimpulan yang valid, sedangkan virus corona terus bermutasi, dan beberapa tipe virus yang hanya menyebabkan gejala ringan seperti demam tidak menciptakan sistem imun yang berlangsung lama (bahkan kurang dari 12 bulan), yang berarti kamu bisa saja mengalami penyakit ini satu kali dalam setahun—atau bahkan lebih—jika tidak berhati-hati." [cn]